KEBERKAHAN UMUR - Darul Ihya' Liulumiddin

Darul Ihya' Liulumiddin

Pondok Pesantren Darul Ihya Liulumiddin

Post Top Ad

Ulasan Pengajian Al-Hikam
Hari/Tanggal : Jum'at, 03 November 2017
Oleh : Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf


من بورك له في عمره أدرك في يسير من الزمن من منن الله تعالى مالا يدخل تحت دوائر الغبارة ولا تلحقه الإشارة
"Siapa yang diberi barokah didalam umurnya maka dia dapat mencapai didalam waktu yang singkat pemberian-pemberian Allah yang tidak dapat dihitung oleh kata-kata dan tidak dapat dikejar oleh isyarat."


- (www.darulihya.net) Sebagaimana yang pernah dijelaskan bahwasannya arti umur barokah yaitu umur yang kelihatannya sedikit akan tetapi banyak kebaikan yang didapat dalam umur yang sedikit itu, sebagaimana dicontohkan seperti Al Imam Nawawi RA, Beliau secara dhohir wafat dalam usia yang sangat muda yaitu 45 tahun, akan tetapi karangan Beliau sangat banyak bagaikan orang yang berumur sangat panjang, bahkan dikatakan oleh sebagian Ulama' bahwa Beliau sempat menyandang maqom Quthbiyyah  di akhir umurnya.
- Beberapa Ulama' selain berkah umurnya dalam mengarang kitab, terkadang juga mereka mencetak kitab-kitab yang berjalan, yakni mendidik murid-murid yang alim, hingga beberapa dari mereka ada yang menjadi Wali Allah, seperti contoh Abuya Sy.Muhammad bin Alawi Al Maliki, Beliau disamping berkah umurnya dalam mengarang banyak kitab, Beliau juga mencetak murid-murid yang ilmunya bagaikan kitab-kitab yang sangat banyak. Pernah pada suatu hari Beliau mangantarkan salah satu muridnya pulang sampai ke indonesia, kemudian Beliau Sy.Muhammad bin Alawi Al Maliki berkata dihadapan banyak orang yang salah satu isinya adalah "Wahai orang0orang Indonesia, saya datang kesini dengan membawa kitab yang berjalan (yang dimaksud adalah murid yang alim)."


الخذلان كل الخذلان أن تتفرغ من الشواغل ثم لا تتوجه إليه وتقل عوائقك ثم لاترحل إليه
"Kehinaan yang sebenarnya ialah jika engkau diberi waktu luang, tapi waktu itu tidak engkau pergunakan untuk menghadap kepada Allah, dan engkau diberi rintangan sedikit saja, tapi engkau tidak menuju kepada Allah."

 - Nabi SAW bersabda : نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ
Artinya : "Ada dua kenikmatan yang banyak orang melalaikannya, yakni kesehatan dan waktu luang."
- Oleh sebab itu dikatakan bahwa Nabi SAW adalah orang yang paling murah, lebih-lebih lagi diwaktu bulan romadhon, diwaktu itu Beliau menyempatkan waktunya yang berharga untuk belajar Al Qur'an kepada Malaikat Jibril, bahkan sampai-sampai Nabi SAW dikatakan lebih murah dibandingkan angin yang berhembus.
- Jika misalnya ada 2 orang yang mana salah satunya mengajarkan ilmu kepada orang lain, dan yang satunya berdiri disamping pintu sambil membagi-bagikan harta disetiap menitnya, maka jelas sekali bahwa lebih afdhol orang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain, karena perbandingannya adalah membagikan waktu luangnya, sedangkan satunya hanya membagikan hartanya, sedangkan waktu lebih sangat berharga dibandingkan dengan harta seisinya sebagaimana hadits yang telah lewat.
- Barang siapa yang diberi waktu luang oleh Allah akan tetapi tidak dipergnakannya untuk beribadah kepada Nya, maka kenikmatan orang itu yang berupa waktu luang akan dicabut oleh Allah dengan dibebankan kepadanya kesibukan-kesibukan yang banyak.
- Dicontohkan diantara termasuk menyia-nyiakan nikmat berupa waktu luang yaitu jika terhadap amal ibadah kepada Allah, maka orang itu menunda-nunda / diundur-undur, akan tetapi jika untuk urusan dunia maka ia tanggap untuk melaksanakannya.
- قيل : مامضى فات والمؤمل غيب ولك الساعة التي أنت فيها
Artinya : "apa yang sudah terjadi itu telah lewat, sedangkan yang akan datang itu masih perkara yang ghoib, dan yang sebenarnya milikmu adalah waktu saat ini yang engkau berada didalamnya."
-Pada hakikatnya orang yang suka menunda-nunda ibadah adalah sama dengan membiarkan nafsu berkembang biak/menguat, dan hal itu adalah sebenar-benarnya kebodohan, karena tidaklah nafsu jika dibiarkan akan semakin melemah, akan tetapi semakin menguat, justru kebalikannya orang yang suka menunda-nunda itu akan semakin melemah fisiknya, sebagaimana pohon, pohon yang ditunda-tunda untuk dicabut dengan prasangka agar menunggu untuk melemah itu adalah merupakan suatu kebodohan, karena jika ia menunda-nunda akan hal itu, maka yang akan terjadi ialah pohon itu semakin menguat dan sulit untuk dicabut, dan sebaliknya orang yang menunda-nunda itu semakin hari fisiknya semakin melemah dan semakin tidak kuat untuk mencabut pohon itu.


Wallahu a'lam bi Asshawab.
Mudah-mudahan bermanfaat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages